Selasa, 01 September 2015

SECANGKIR PERSEMBAHAN WISUDA

SECANGKIR PERSEMBAHAN WISUDA Persembahan kecil untukmu Mama, Papaku..... Tiada kata terbaik yang harus aku katakan selain terimakasih... kasih sayangmu yang begitu besar, membuatku bisa berdiri hingga hari ini... hari itu, 24 Agustus 2015 Wisuda ke II ku “Program Profesi Ners”.... aku berdiri di tengah ratusan antrian wisudawan, dengan pakaian toga lengkap dan kebaya kuning yang ibu buatkan khusus untukku, aku berdiri dengan bangga karena slempang "Alumni" tersemat di pundakku, akupun yakin rasa bangga yang kalian rasakan itu lebih besar dari aku rasakan.... Satu demi satu nama wisudawan di panggil kedepan, tiba saatnya giliranku untuk maju. Rasa bangga dan haru bercampur jadi satu kala itu... semua memori akan perjalanan pendidikanku muncul satu demi satu... 5 tahun aku belajar sebagai seorang mahasiswi, tinggal jauh dari mama papa, berjuang mendapat predikat terbaik, serta jatuh bangun memenuhi permintaan akademik... 5 tahun bukan waktu yang singkat, begitu banyak kenangan terukir disana... begitu banyak perjuangan dan pengorbanan yang mama papa lakukan untukku... walaupun terpisahkan oleh jarak tapi usaha dan doa mereka untuk menjadikanku seorang sarjana luar biasa besar.... semua mereka korbankan untuk memenuhi kebutuhanku menempuh perjalanan sebagai seorang sarjana.... Pada hari jum'at atau sabtu setiap minggunya, aku selalu pulang untuk bertemu mereka sekedar melepas rindu dan memohon tambahan doa restu karena hari minggu aku sudah harus kembali lagi untuk kuliah.. saat pulang, berjuta cerita muncul menceritakan kehidupan kami masing-masing. yang aku salut, setiap detail ceritaku selalu diperhatikan dengan baik oleh mereka. tak ada satu ceritapun yang mereka lewatkan meskipun ceritanya agak membosankan.... waktu berjalan begitu cepat, kini aku telah berdiri sebagai seorang sarjana. predikat yang sangat mama papa inginkan... terimakasih mama, terimakasih papa, atas semua kasih sayang yang kalian berikan, atas rasa cinta yang tulus yang tidak pernah habis.... kini aku baru bisa memberikan persembahan kecil..... semoga kedepan aku bisa menjadi orang yang benar-benar kalian banggakan dan menjadi anak emas kalian... 24 Agustus 2015 adalah hari dimana semua bunga menari untukku, semua bintang menerangi segala kegelapanku, dan semua cinta yang hadir dari orang-orang yang sayang padaku, dapat aku saksikan hari itu. Keberhasilan dan perjuangan yang kita capai hari ini, tidak terlepas dari cinta, kasih sayang, dukungan serta bimbingan dari orang, tentunya tidak di ragukan lagi ketulusan cintanya, dan tidak akan pernah melepaskan cinta mereka untuk kita yaitu keluarga terutama orang tua. *puisi* UNTUK SEPASANG INSAN CIPTAAN TUHAN Dia yang berpeluh, bersimbah darah, bertaruh nyawa Untuk membawaku melihat alam fana, Jemari lembutnya menuntunku dalam semua bentuk kehidupan, Semenjak ku di buaian, Sampai hari ini ku tegak berdiri tanpa bantuan, Dia kiriman Tuhan yang menjadi sayapku, Membantuku terbang mencapai impianku.. Dia sederhana, namun luar biasa, dia kusebut MAMA. Dia yang berpeluh, memeras keringat, memutar otak Mencari semua arah untuk memenuhi kebutuhanku, Menyesal diam-diam saat tak mampu penuhi mauku, Semenjak ku tak mengerti jaman, Sampai hari ini ku mampu mengenali mana kebutuhan mana keinginan, Tangannya yang kokoh menggendongku, melindungiku, Dia yang Tuhan kirim untuk melengkapi sayapku, Membantuku terbang mencapai masa depanku, Dia apa adanya, namun begitu bijaksana, dia kusebut PAPA. PAPA, pernahkah kau tidak memikirkanku barang sejenak? Tidak! karena tanya tak pernah lupa, “Nak, hari ini makan apa?” “Nak, uang masih ada?” “Nak, sehat kan di sana?” dan pesan telah mengakar , “Rajin ibadah dan belajar” atau mungkin hanya diam dalam makna “Semangat, kamu pasti bisa!” Ya, meski berat beban, letih tak kau tampakkan Demi aku, semua sempurna, semua baik-baik saja Mama , maafkan aku yang terkadang melawan maafkan aku yang jarang pulang maafkan rinduku yang kadang semu maafkan aku yang setengah hati menjawab teleponmu maafkan aku yang mungkin pernah berbohong padamu lupa menyebut namamu dalam doaku namun percayalah, di tiap langkahku, aku mengingatmu Menyebut mereka dengan Orang Tua Begitu banyak arti mereka, Semua bilangan di dunia tidak cukup menimbangnya, Pengorbanan mereka dibawa sepanjang usia, Pengorbanan ku untuk mereka dibawa sepanjang aku belum berpria, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah memelihara / mendidikku sewaktu aku kecil.” Merekalah orang yang sangat aku hargai dan hormati, aku cintai dan aku sayangi ya mereka papa dan mamaku dgn disertai senyuman aku berjalan menghampirinya, seiring dengan langkahku,terlintas dibenakku atas apa yang telah mereka lakukan pada hidupku selama ini. Untuk kedua sosok yang terduduk haru di sana, dengan senyum tulus dan mata berkaca untuk kedua sosok yang tak pernah putus kasih dan sayangnya ijinkan aku mengantarmu pada bangga dan bahagia lewat kelulusan ini, bukan hanya di sini, tak berakhir hari ini janjiku, akan selalu ada cerita dan kenangan baru dari restumu, melalui doa harapmu TOGA INI KU PERSEMBAHKAN UNTUK MU,, MAMA,,MAMA,,MAMA,, PAPA,,

Minggu, 12 Juli 2015

Dalam Diam Ini

-Terima Kasih Telah Menjagaku Dalam Diammu- Mungkin kelak aku akan menangis di pelukmu, saat kau ceritakan betapa beratnya kau mencintai dalam diam. Betapa kau menikam cemburu menjadi kerido'an. Mungkin kelak aku akan tersendu di hadapmu, saat kau ceritakan betapa susahnya menahan rindu yang kian menumpuk atas anugrah yg engkau milki. Mungkin kelak aku akan merasa kerdil di hadapmu, saat aku tersadar betapa hebatnya kau menjaga kehormatanku dan menghormatiku sebagai wanita. Kau yang terus mengkhawatirkan tentangku, mengingatkanku selalu. Dalam diammu, kau tak henti mendo'akan ku. Mungkin kelak aku tak tahu bagaimana caranya berhenti berterima kasih padamu. Salain terus menjagamu, mendoakanmu dalam diamku tanpa harus kamu tahu,memberikan seluruh kemampuan terbaikku untuk bersama menuju surga-Nya. :')

Jumat, 19 Juni 2015

KISAH CINTA ALI DAN FATIMAH

KISAH CINTA ALI DAN FATIMAH 28 AGUSTUS 2014 NUR AZIS KURNIANTO Inilah kisah cinta suci antara Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Cinta sahabat Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra memang luar biasa indah, cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Konon, karena saking teramat rahasianya, setan saja tidak tahu urusan cinta diantara keduanya. Sudah lama Ali terpesona dan jatuh hati pada Fatimah, ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar melamar Fatimah. Sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun, kesabaran beliau berbuah manis, lamaran kedua orang sahabat yang sudah tidak diragukan lagi keshalihannya tersebut ternyata ditolak oleh Rasulullah. Hingga akhirnya Ali memberanikan diri, dan ternyata lamarannya yang mesti hanya bermodal baju besi diterima oleh Rasulullah. Di sisi lain, Fatimah ternyata juga sudah lama memendam cintanya kepada Ali. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”, Ali pun bertanya mengapa ia tak mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fatimah Az-Zahra menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”. Diceritakan, Ali Bin Abi Thalib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri nabi Muhammad saw. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar kabar kalau Abu Bakar ternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yang sudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agamanya lebih hebat dari dia. Tetapi Ali tetap bekerja dengan giat. Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar kepada Fatimah ditolak. Ali tertegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali “waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengar kabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segera melamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar kabar kalau Umar Bin Khatab melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali mendahulukan orang lain, bagaimana perasaannya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu. Tapi tak lama, kesenangan itu kembali pudarkarena terdengar kabar lagi, ternyata Utsman bin Affan melamar Fatimah. ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali “mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, InsyaAllah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah, tapi , apa hendak dikata , adakah mau mengalah?”. Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran Utsman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya “ pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi?kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi? Tunggu yang ke4 kalinya? baik cepat!” Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad saw. dengan tujuan melamar Fatimah, dan sahabat-sahabat tahu? lamarannya diterima! Ternyata memang dari dulu Fatimah az-Zahra sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah az-Zahra. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya Ijab Kabul disahkan. Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali mendahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga. “Jodoh memang tidak kemana”,dari cerita itu, lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu, mengambil kesempatan , atau mempersilakan yang lain” Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita, Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya. Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji” Akhirnya Ali pun menikahi Fatimah az-Zahra Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan sahabat-sahabatnya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya, Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati.,“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian. Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda” Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu” Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu” Dalam riwayat lain diceritakan: Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali: Fatimah : “Wahai suamiku Ali, aku telah halal bagimu, aku pun sangat bersyukur kepada Allah karena ayahku memilihkan aku suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”. Ali : “Aku pun begitu wahai Fatimahku sayang, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu.” Fatimah : (berkata dengan lembut) “Wahai suamiku, bolehkah aku berkata jujur padamu? karena aku ingin terjalin komunikasi yang baik diantara kita dan kelanjutan rumah tangga kita”. Ali : “Tentu saja istriku, silahkan, aku akan mendengarkanmu…”. Fatimah : “Wahai Ali suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku. Namun akhirnya ayahku menikahkan aku denganmu. Sekarang aku adalah istrimu, kau adalah imamku maka aku pun ikhlas melayanimu, mendampingimu, mematuhimu dan menaatimu, marilah kita berdua bersama-sama membangun keluarga yang diridhoi Allah” Sungguh bahagianya Ali mendengar pernyataan Fatimah yang siap mengarungi bahtera kehidupan bersama, suatu pernyataan yang sangat jujur dan tulus dari hati perempuan sholehah. Tapi Ali juga terkejut dan agak sedih ketika mengetahui bahwa sebelum menikah dengannya ternyata Fatimah telah memendam perasaan kepada seorang pemuda. Ali merasa agak sedih karena sepertinya Fatimah menikah dengannya karena permintaan Rasul yang tak lain adalah ayahnya Fatimah, Ali kagum dengan Fatimah yang mau merelakan perasaannya demi taat dan berbakti kepada orang tuanya yaitu Rasul dan mau menjadi istri Ali dengan ikhlas. Namun Ali memang sungguh pemuda yang sangat baik hati, ia memang sangat bahagia sekali telah menjadi suami Fatimah, tapi karena rasa cintanya karena Allah yang sangat tulus kepada Fatimah, hati Ali pun merasa agak bersalah jika hati Fatimah terluka, karena Ali sangat tahu bagaimana rasanya menderita karena cinta. Dan sekarang Fatimah sedang merasakannya. Ali bingung ingin berkata apa, perasaan didalam hatinya bercampur aduk. Di satu sisi ia sangat bahagia telah menikah dengan Fatimah, dan Fatimah pun telah ikhlas menjadi istrinya. Tapi disisi lain Ali tahu bahwa hati Fatimah sedang terluka. Ali pun terdiam sejenak, ia tak menanggapi pernyataan Fatimah. Fatimah pun lalu berkata, “Wahai Ali suamiku sayang,Astagfirullah,maafkan aku. Aku tak ada maksud ingin menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur padamu, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku.”. Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah Fatimah yang cantik itu. Melihat sikap Ali, Fatimah pun berkata sambil merayu Ali, “Wahai suamiku Ali, tak usah lah kau pikirkan kata-kataku itu, marilah kita berdua nikmati malam indah kita ini. Ayolah sayang, aku menantimu Ali”. Ali tetap saja terdiam dan tidak terlalu menghiraukan rayuan Fatimah, tiba-tiba Ali pun berkata, “Fatimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, kau pun tahu betapa aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu, kau pun juga tahu betapa bahagianya kau telah menjadi istriku. Tapi Fatimah, tahukah engkau saat ini aku juga sedih karena mengetahui hatimu sedang terluka. Sungguh aku tak ingin orang yang kucintai tersakiti, aku bisa merasa bersalah jika seandainya kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh cinta kepadaku. Walaupun aku tahu lambat laun pasti kau akan sangat sungguh-sungguh mencintaiku. Tapi aku tak ingin melihatmu sakit sampai akhirnya kau mencintaiku.”. Fatimah pun tersenyum mendengar kata-kata Ali, Ali diam sesaat sambil merenung, tak terasa mata Ali pun mulai keluar air mata, lalu dengan sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fatimah, aku sudah menikahimu tapi aku belum menyentuh sedikit pun dari dirimu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku akan ikhlas, lagi pula pemuda itu juga mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Aku tak ingin cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan, sungguh aku sangat mencintaimu, demi Allah aku tak ingin kau terluka… Menikahlah dengannya, aku rela”. Fatimah juga meneteskan airmata sambil tersenyum menatap Ali, Fatimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fatimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fatimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu, namun izinkanlah aku mengetahui nama pemuda itu.” Airmata Fatimah mengalir semakin deras, Fatimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fatimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu Fatimah pun berkata dengan tersedu-sedu,“Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah.” Berkali-kali Fatimah mengulang kata-katanya. Setelah emosinya bisa terkontrol, Fatimah pun berkata kepada Ali, “Wahai Ali, Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu, sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah”. Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fatimah kepadanya ”Apa maksudmu wahai Fatimah? Kau bilang padaku bahwa kau memendam rasa cinta kepada seorang pemuda, tapi kau malah kau bilang sangat mencintaiku, dan kau juga bilang ingin tertawa melihat sikapku, apakah kau ingin mempermainkan aku Fatimah?, sudahlah tolong sebut siapa nama pemuda itu? Mengapa kau mengharapkannya walaupun dia sudah menikah?”. Fatimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun, sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku terlalu takut, aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini, aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar bila ku bertemu dengannya. Kau juga benar wahai Ali cintaku, ia memang sudah menikah. Tapi tahukah engkau wahai sayangku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya” Ali pun masih agak bingung, tapi Fatimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin menggoda Ali, ”Kau ingin tahu siapa pemuda itu? Baiklah akan kuberi tahu. Sekarang ia berada disisiku, aku sedang memeluk mesra pemuda itu, tapi kok dia diam saja ya, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku…” Ali berkata kepada Fatimah, “Jadi maksudmu…?” Fatimah pun berkata, “Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku”. Subhanallah, Betapa Indahnya Kisah Cinta antara Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Maha Suci Allah, Dia-lah yang mengatur segalanya. Dia-lah yang telah mengatur jodoh, rezeki, pertemuan, dan maut dari setiap insan di dunia. Pesan Rasulullah kepada Fatimah az-Zahra Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang, “Puteriku, maukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?” “Tentu sekali ya Rasulullah,” jawab Siti Fatimah kegirangan. Rasulullah saw. bersabda, “Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali selesai shalat, hendaklah membaca ‘Subhanallah’ sepuluh kali, ‘Alhamdulillah’ sepuluh kali dan’Allahu Akbar’ sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca ‘Subhanallah’, ‘Alhamdulillah’ dan’Allahu Akbar’ ini sebanyak tiga puluh tiga kali.” Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua kerja rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah. Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya senantiasa mengingat-Nya. Cerita ini adalah dikisahkan menurut penceritaan yang mudah untuk difahami,mudah-mudahan bermanfaat. “Jika kamu memelihara dirimu dari suatu perkara yang haram karena Allah swt. diatas wanita yang dicintaimu dengan banyak bersabar. Insya Allah, Allah akan menghalalkannya untukmu atas kesabaranmu karena Allah”

Minggu, 31 Mei 2015

Indah pada Waktu-Nya

Ketika cinta bertasbih melantunkan kerinduan, Mengukir keindahan dalam hati sanubariku, Tertulis namamu yang aku dambakan, Menjadi pendamping setia dalam kehidupanku, Lafaz-lafaz asmara mengumandangkan cinta, Mencari dan membawamu mengarungi 7 surga, Lewat iman, islam dan ihsan disetiap langkah kita, Akan aku genggam hati dan jiwamu untuk selamanya, Jangan pernah kau tinggalkan aku, Bila aku tak sempurna dalam pandangan duniamu, Aku hanya bisa berjuang untuk membahagiakanmu, Dengan selalu belajar untuk mencintai dan menyayangimu karena Allah, Bila saatnya nanti kita bertemu, Yakinkan aku bahwa kau tercipta hanya untukku, Cintailah aku karena Allah ... Cintailah aku karena agamaku ...

RinduKu PadaMu Duhai Insan Allah Yang Di Titipkan DihatiKu

Bismillahirrahmanirrahim ,,, Sebening embun pagi nan halus, Seindah sang fajar yang memancarkan cahayanya, Selembut sang mentari yang menyapa hati nan syahdu, Semilir angin yang merayu memeluk bumi, Setulus nan halus perasaanku yang ku semaikan untukmu. Di pagi yang indah nan mulia ini, Izinkanlah ku curahkan rasa rinduku padamu, Agar tak menyesakkan dada, Agar tiada berlagu dalam sepi di jiwa ini. Airmataku menetes hingga mengalir sayu di lembut pipiku, Ingin sekali rasanya aku melaungkan rasa ini padamu, Agar kau tahu, betapa aku merindui dan mencintaimu karnaNYA. Duhai Rabbi... yang menciptakan angin yang mendesis lembut, Sampaikanlah salam rinduku padanya, Yang tiada pernah terucap dari lisanku. Karna aku... malu, malu dengan rasa ini, Karna keimananku yang selalu menjagaku agar terselimuti api rinduku dengan kasihNYA. Duhai Rabbi, yang mencurahkan hujan... Turunkanlah gerimis, agar mengundang perasaannya padaku, Supaya dia tahu... betapa sunyinya aku di sini, Tanpa salam serta tutur lembut sapanya... Munculkanlah pelangi di hatinya, Agar bercahaya memancarkan ronanya, setelah hujan lebat berlalu, Agar dia dapat merasakan, sesungguhnya aku di sini, Ingin mengetuk pintu hatinya. Duhai kasih... ku mohon izinkanlah aku mengagumimu, Akan keindahan akhlaq dan pribadimu, Ku ingin menyayangi kekurangan dan kelebihanmu, Ku ingin menyadari kekhilafan dan kealphaanmu, Ku ingin selalu mensyukuri nikmat cintaNYA... yang tiada ternilai ini. Bahwa kehadiranmu... sungguh sangat berarti bagiku, Bawalah aku dalam keta’atan kepadaNYA, Asal jangan kau bawa aku pada kemaksiatan yang mengundang murkaNYA. Dalam diamku... Telah ku pilih jalan ini, meski ku sendiri... Dalam merenungi arti sepi, Biarlah ku rajut asa dalam do’a Karna mungkin ini ‘kan lebih berharga, Kata hatiku, biarlah ku simpan dalam dada Hingga halal itu tiba... atas petunjukNYA. Lelah sudah aku mencari ruang cintamu, Yang kian semu nan jauh, Ingin ku berlari meninggalkan semua, Namun ku tak kuasa, melawan kata hati, Yang selalu mengharap dan merinduimu kembali, Kini diriku yang terombang-ambing dalam kebimbangan, Serta kepiluan yang mewarnai hari. Semakin terasa ... Semakin berbeda ... Sungguh sangat menyiksa ... T_T Semoga di suatu hari nanti, Engkau akan mengerti semua ini, Kini... ku ikhlaskan segalanya kepadaNYA. Untuk cinta ini... ku lalui dan ku lewati dengan redha, Untuk rindu ini... tak pernah ku sesali, Biarlah mengalir syahdu... sejernih mata air mengalir lembut, Biarlah rindu ini melayang di hamparan langit, Dalam keteduhan awan... hingga diri menanti fajar, Yang ‘kan menyingsingkan pesonanya esok hari. Salam sayang nan rinduku padamu, Duhai insan yang Allah titipkan di hatiku .. .. “Aamiin Ya Allah Ya Rabbal’alamiin”

Rabu, 27 Mei 2015

"Aku Lafaskan Cinta Dalam Tafsir Kesetiaan dan Ketulusan Dalam Diamku"

"Aku Lafaskan Cinta Dalam Tafsir Kesetiaan dan Ketulusan Dalam Diamku" Masih dalam penantian seoarang wanita :') tanpa harus dia tahu... Bukan pangeran berkuda putih yang ku nanti,tapi sosok ikhwan yang mampu menjadi Imam yang ku tunggu untuk menjadi nahkodku dalam bahtera kehidupan. Sosok sahabat yang ku nanti untuk selalu berbagi. Sosok kekasih yang ku tunggu untuk senantiasa menyayangi dan sosok ayah yang akan menjadi tauladan bagi buah hatiku. Amiin..... (^_^) Bagiku cinta itu bukan di lisan maka tak harus aku ucapkan. Bagiku cinta itu bukan di jemariku hingga tak perlu aku menyentuhmu. Dan bagiku cinta itu bukan di mataku maka tak harus jua aku menatapmu. Dengan cinta aku ingin memuliakanmu, dengan cinta aku ingin menjaga rasa maluku dan dengan cinta aku ingin menjaga kehormatanmu. Dalam hidupku, Tuhan selalu memberikan anugrah yg tulus buat diriku sampai aku bisa belajar akan arti keikhlasan, Insya Allah anugrah Tuhan yg telah diberikan tidak akan pernah mati karena selalu tersiram embun suci yang terpancar dari cahaya dzikir pada illahi. Kesetiaan akan muncul seiring rasa cinta, dan takkan padam dihembus waktu dan takkan sirna dengan jarak yang menjurang. Tahukah engkau kenapa ? Karena bagiku kesetiaan adalah cermin kesabaran. Karena bagiku kesetiaan adalah cermin ketulusan. Karena bagiku kesetiaan adalah keistimewaan. " Untaian Nama Dalam Do’a Ku " Ya Ilahi Rabbi.. Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.  Seorang pria yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.. Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau.  Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.. Seorang pria yang mempunyai sebuah hati yang sungguh mencintai dan haus akan Engkau..dan memiliki keinginan untuk menauladani sifat-sifat Agung-Mu.. . Seorang pria yang mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup, sehingga hidupnya tidaklah sia-sia…. Seorang pria yang memiliki hati yang bijak bukan hanya sekedar otak yang cerdas.. . Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku..  Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.. Seorang pria yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.. . Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.  Seorang pria yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada di sebelahnya.. Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya..  Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya. Seorang pria yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya.  Seorang pria yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.  Dan aku juga meminta :  Buatlah aku menjadi seorang perempuan yang dapat membuat pria itu bangga.  Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU, sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku… Berikanlah SifatMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku… Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.  Berikanlah aku penglihatanMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya dan bukan hal buruk saja…  Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU dan pemberi semangat, sehingga aku dapat mendukungnya setiap hari, dan aku dapat tersenyum padanya setiap pagi..  Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu, aku berharap kami berdua dapat mengatakaan “Betapa besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna.”  Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kautentukan.. Amiin "InsyaAllah Aku Menunggumu Karna Allah " Ini bukan sekedar kata-kata agar kamu jatuh hati padaku, namun ini adalah kejujuranku. Mengapa aku berkata seperti ini? Karena aku menyukai orang-orang yang mencintaiNya. ... yang mencintai RasulNya... dan denganmu... kuharap keteguhanmu bisa mengajakku serta untuk semakin mencintaiNya. .. Aku merindukanmu karena Allah Ini bukan untaian rahasia dalam hatiku untuk memikatmu. Mengapa aku berkata seperti ini? karena aku tahu... mengucapkan ikrar suci itu menyempurnakan hidupku. Dan... Pernikahan adalah sunnah Rasullullah dan Rasulullah adalah kekasih Allah. Cinta adalah anugerahNya yang ditumbuhkan dihati orang-orang yang dikehendakiNya. Bagaimana aku tidak merindukan kehadiranmu wahai kekasih.... to come in my life ?? Aku menunggumu karena Allah Ini bukan rajutan perasaan untuk sebuah penantian. Mengapa aku berkata seperti ini? Karena aku tahu, diriku terlalu banyak kekurangan.. . dan karenanya... aku butuh seseorang yang lebih halus untuk menaklukkan hatiku yang tegas dan yang lebih tangguh untuk menguatkan hatiku yang lemah dengan ijinNya... Aku tahu... terlalu banyak yang harus aku perbaiki... karenanya, aku menunggumu untuk menjadi pendamping hidupku... aku menunggumu untuk lebih membimbingku dengan tulusmu... untuk lebih mengajariku dengan sabar hingga kenikmatan imanku terhadapNya semakin dalam dengan ijinNya.... disetiap harinya... untuk selama-lamanya Amin... Aku tahu, dalam hatiku... aku tak ingin hidup sendiri, karenanya, aku berharap... Allah menganugerahkan padaku seorang imam untuk berbagi banyak hal dan menerima apa adanya diriku beserta keluargaku.. . bila Engkau benar-benar ada dalam hidupku... semoga Allah memantapkan hati kita dan mendekatkan kita dijalan yang lebih Ia Ridhoi... Aku sedang menanti Dia.... Seorang lelaki yang akan bergelar suami Seorang mukmin yang merindui syahid di jalan ALLAH Seorang hambaNYA yang senantiasa zikrullah Dia seorang lelaki yang tegas dan berani Dia tidak pernah takut untuk berkata benar Dia tidak pernah gentar melawan nafsu yang ingin menguasai diri Dia sentiasa mengajak aku berjuang berjihad fisabilillah Dia selalu menghiburkan aku Dengan alunan ayat-ayat suci Al-Quran Dengan zikir-zikir munajat Dengan surah-surah rindu yang dihafaznya Ketika aku leka diulik mimpi indah duniawi Dia menasihati ku supaya mengingati mati Ketika aku sedang asyik terpesona dengan buaian cinta dunia Dia menyedarkan aku betapa lazatnya lagi pesona cinta Yang Maha Esa Dia memang sentiasa kelihatan penat Matanya penat kerana membaca Suaranya lesu kerana penat mengaji dan berzikir Badannya letih kerana bermunajat di malam hari Dia sentiasa mengingat mati Baginya,dunia ini adalah pentas sandiwara Kita hambaNYA adalah pelakon Hasil keputusan lakonan kita akan diputuskan di padang Mahsyar nanti Dia sentiasa menjaga matanya dari berbelanja perkara-perkara maksiat Dia sentiasa mengajak aku mendalami ajaran Islam Dia seorang yang penyayang dan taat akan kedua ibu bapak Dia juga sentiasa berbakti untuk keluarga Dia sentiasa tabah dan sabar dalam menghadapi dugaan Baginya, dugaan-dugaan itulah yang akan menjahit semula Sejadah imannya yang terkoyak Lantaran mungkin kerana kekhilafannya sendiri Dia sentiasa menjaga solatnya kerana itulah maruah dirinya Dia sentiasa bersedia menjadi imam dan pemimpin keluarga Dia tidak pernah berasa malu mempertahankan agama IslamNYA Kerana Islam adalah addin ALLAH yang sebenar-benarnya Dia sentiasa ingin mencontohi sifat-sifat mulia Rasullullah S.A.W. Dia juga sentiasa berusaha mencintai kekasih agungnya Kekasih sejatinya dan kekal abadi Iaitu ALLAHURABBI Dia selalu berdoa dan mengimpikan janannahNya Dia ingin mengajak aku ke sana  Karena, di situlah tempat pertama wujudnya cinta Dia ingin bawa aku ke syurga yang abadi dan hakiki Aku mencintai dia kerana agamanya dan kerana cintanya kepada Maha Pencipta Andai dia hilangkan cintanya, maka hilanglah cintaku pada dia Cinta dia terhadap Maha Pencipta mendekatkan aku padaNYA Cinta Illahi jugalah yang menyebabkan aku memilih dia Siapakah dia..??? Aku juga tidak mengetahui siapakah jodoh ku Hanya Engkau Yang Maha Mengetahui segala sesuatu Doaku, semoga dia tercipta untuk ku Semoga aku bertemu dengan dia Karena.. Dia pilihan ku..

Sabtu, 11 April 2015

Sekotak kado yang jauh disana

Menulis adalah caraku bercerita tanpa suara... ***11 April 2015...
Teman sejatiku : “Aminn di ujung Al-fatihaKu... Mengingatkanku akan keindahan sosok sifat darimu,begitu indah, melekat.... mengisi detak qalbuku... hadirnya dirimu mengetuk relung jiwaku, membuat kalbu bicara akan kata-kata yang diucapkannya, hingga ilham menghampiri... Ketika embun tak jatuh kedalam petaknya, seakan benar bahwa memang hangat itu bukan tempatnya bersatu, mungkin ada tempat lain, untuk embun itu bersatu...” Bismillahirohmanirrohim...
Sebuah surat darinya telah kubaca Ya Rabb, sampai mata ini seperti berkaca-kaca karena begitu bersyukurnya diriku yang sampai sekarang aku masih belum percaya engkau memperkenalkanku dan menemukannya diantara mahluk ciptaanmu diluar sana... Sebuah kotak berisikan beberapa kado untukku yang penuh makna... Kubuka perlahan-lahan isi sebuah kotak yang bewarna coklat dan pink, kuambil sebuah bunga didalamnya, sungguh indah dan wangi ya Rabb... seperti setahun yang lalu yang wanginya belum hilang sampai sekarang. Didalam kotak itu ada banyak kado didalamnya yang sangat aku sukai, terimah kasih ya Rabb... yang membuatku sangat bahagia, semoga kebahagiaan ini selalu ada... Insya Allah lampu ini akan menjadi penerang disetiap kesunyianku, sebuah buku yang sangat bagus yang akan segera kubaca, pulpen yang warna pink yang Insya Allah akan aku gunakan ketika aku menulis, dan sebuah leontin yang sangat aku sukai, dan sebuah gantungan kunci lambang yin dan yang penuh makna yang selalu akan aku simpan sampai kita bertemu dan menyatukannya kembali... terimah kasih untuk segalanya untuk doa dan lagu rindunya yang membuat aku selalu bersyukur kepada Allah... Setelah membaca surat darimu, mata berkaca-kaca ini berubah seketika, berubah mengeluarkan air yang tidak bisa aku tahan... Air mata ini keluar dengan senyuman hatiku, bukan karena sedih tetapi aku bersyukur ada orang yang setulus dirimu yang telah mengembalikan senyumku...senyuman hati yang sudah lama menghilang. Sudah lebih setahun aku mengenalmu, mengenal melalui Allah dan mengenal sebagai teman sejati dalam hatiku... banyak pelajaran dan hikmah yang aku bisa ambil dalam setahun lebih mengenalmu... Aku sadar aku hanyalah wanita yang biasa, wanita yang penuh dengan kekurangan... yang diluar sana masih banyak wanita yang lebih baik dariku... menemukanmu adalah kebahagiaan yang sampai sekarang masih belum bisa aku ungkapkan... keindahan hatimu selalu menbuatku terkagum.... Setelah mengenalmu aku menemukan banyak hal yang bisa membuatku selalu bersyukur, sabar, dan ingin lebih baik dalam episode kehidupan ini... Aku tidak pernah ingin memaksamu, ataupun berjanji untuk menemuiku... karena aku tau semuanya sudah diatur oleh Allah... Biarkan hati ini dan jiwa ini terbang menjalani niatan baik yang telah dikuatkan melalui doa-doa panjang, titipkan semua ini kepadanya... Mungkin aku tak terlihat olehmu, namun aku yakin niatan baik ini melalui doa akan selalu mengiringi perjalan ini, sekarang dan selamanya... Aku tidak pernah sama sekali untuk memaksa diriku menunggu siapapun dalam hidupku dan membuatmu meneteskan air mata ketika membaca tulisanku, demi Allah aku tidak ingin membuatmu sedih... :”( Aku hanya tak memiliki alasan sampai sekarang mengapa saat ini aku masih menunggu seseorang akan ditakdirkan olehku... meski dia tak pernah meminta untuk ditunggu dan diharapkan :”(
“Meski kita tak pernah bertemu, setidaknya aku disini selalu mendoakanmu, mendoakan untuk kebahagiaanmu, untuk yang terbaik bagimu, berharap dirimu selalu bahagia bersama seseorang yang yang engkau cintai, setidaknya aku selalu berharap kalau aku selalu bisa jadi teman sejatimu, mengingatkanmu saat dirimu lemah, membuatmu tertawa saat kesedihan hampir menyapamu“ Terimah kasih untuk segalahnya, terimah kasih untuk doa yang selalu ada... aku juga akan selalu mendoakanmu disini, selalu ada disaat engkau membutuhkanku, dan berdoa yang terbaik untukmu berharap suatu saat nanti bisa bahagia dengan orang yang engkau cintai yang sudah ditakdirkan oleh Allah... Sekali lagi... Terimah kasih untuk semuanya... terimah kasih yang sampai sekarang mau menjadi temanku... untuk ketulusan yang pernah ada... terimah kasih banyak...
“ Bukan pangeran berkuda putih yang kunanti, tapi sosok ikhwan yang mampu menjadi imam yang kutunggu untuk menjadi nahkodaku dalam bahtera kehidupan. Sosok sahabat yang kunanti untuk selau berbagi, sosok kekasih yang aku tunggu untuk senatiasa menyayangi dan sosok ayah yang akan menjadi tauladan bagi buah hatiku. Aminnn” ^_^